Kamis, 12 November 2015

‘HATERS’ SEBAGAI CERMINAN KEPRIBADIAN KEBUDAYAAN


Masyarakat ketimuran seperti Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan juga keramahan. Dahulu, nilai-nilai tersebut dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai kebanggaan. Misalnya pada masyarakat Tengger. Penduduk asli Tengger memegang teguh nilai-nilai dalam kebudayaan mereka, salah satunya budaya keramahan-tahamahan dan sikap saling menghargai. Nilai-nilai tersebut dianggap mampu mempererat hubungan antar warga, sehingga menciptakan suasana yang harmonis dan menyenangkan. Masyarakat Tengger bukanlah satu-satunya suku yang menjunjung nilai kesopanan dan keramah-tamahan, melainkan hampir seluruh suku di Indonesia juga menjungjungnya. Namun, seiring berkembangnya zaman dan masuknya teknologi, nilai-nilai tersebut mulai luntur. Hal itu dapat dirasakan melalui munculnya ‘haters’ dalam jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan instagram yang susungguhnya merupakan cerminan kepribadian kebudayaan bangsa yang mulai bergeser.
‘Haters’ adalah sekelompok orang yang menyuarakan ketidaksukaannya pada seseorang melalui opini pedasnya dalam media sosial. Munculnya ‘haters’ merupakan awal mula terjadinya fenomena cyberbullying. Cyberbullying adalah “an aggressive, intentional act carrief out by a group or an individual, using electronic forms of contact, repeatedly and over time against a victim who can not defend him or herself” (Weber dan Pelfrey 9). Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa cyberbullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dengan menggunakan media elektronik secara berulang-ulang terhadap korban yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Dalam situasi ini, ‘haters’ berada dalam posisi sebagai kaum yang agresif terhadap korban bullying. Fenomena ‘haters’ merupakan gambaran bagaimana kebudayaan malu dan saling menghargai mulai luntur akibat perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Munculnya fenomena bullying tidak bisa lepas dari adanya perkembangan teknologi. Hal ini didukung oleh pendapat Weber dan Pelfrey dalam buku Cyberbullying: Causes, Consequences, and Coping Strategy bahwa bullying saat ini semaking difasilitasi dengan kemajuan teknologi (Weber dan Pelfrey 11). Kemajuan teknologi yang sangat pesat memfasilitasi ‘haters’ dalam menyuarakan kebenciannya kepada seseorang. Mereka bebas mengekspresikan rasa tidak suka tanpa perlu memperdulikan lingkungan, karena ruang mereka berbiacara ialah maya, yaitu ruang yang bebas tanpa aturan.
Salah satu fenomena ‘haters’ yang sedang panas di Indonesia adalah cyberbullying yang dialami oleh Bella Shofie. Ia merupakan selebritis terkenal yang baru saja menikah dan menjadi istri kedua. Fakta tersebut memunculkan berbagai respon masyarakat. Banyak respon negatif yang muncul dari berita tersebut dan dapat dilihat dari banyaknya akun instagram yang merupakan diprakarsai oleh ‘haters’ Bella Shofie. Tidak hanya itu, kelompok tersebut di ikuti oleh lebih dari 37.000 pengikut. Dimana setiap foto yang diunggah kedalam akun tersebut mendapat komentar hingga 500, dan berisi kata-kata agresif yang ditujukan kepada Bella Shofie.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran nilai-nilai masyarakat Indonesia yang dahulu dikenal sebagai bangsa dengan masyarakat yang sopan dan ramah menjadi masyarakat yang agresif dan tidak malu dalam menunjukkan rasa bencinya ke ruang publik, dalam hal ini yang dimaksud adalah ruang maya. Dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi mempengaruhi nilai-nilai yang dahulunya dijunjung tinggi menjadi bergeser bahkan hilang. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial, hendaknya masyarakat mampu menyikapi perkembangan teknologi yang semakin canggih secara positif tanpa melunturkan nilai-nilai budaya yang merupakan ciri kepribadian sebuah budaya bangsa.  

Works Cited                                                                       


Weber, Nicole L. and V William Pelfrey. Cyberbullying: Causes, Consequences, and Coping Strategy. America: LFB Scholarly Publishing, 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar