Minggu, 13 Maret 2016

Setelah Membaca Napas Mayat

Hai, ini kali ketiga saya menulis untuk diunggah dalam blog yang hingga saat ini belum memiliki fokus topik. Rencananya saya akan menulis dalam blog ini minimal satu bulan sekali, doakan saja semoga konsisten dengan keinginan tersebut. Saat ini, saya baru saja selesai membaca beberapa novel. Novel-novel tersebut sesungguhnya merupakan bagian daripada kuliah saya (haha). Novel yang terbaca terlebih dahulu berjudul Saman. Terlambat sekali bukan?! Yah, daripada tidak sama sekali. Untuk ceritanya tidak usah ditanyakan lagi, tentunya sangat menarik untuk dinikmati. Sebagai seorang pembaca, normal jika dalam proses pembacaan sebuah karya sastra mengalami gejolak emosi. Saya mengalami hal tersebut. Saya tidak suka dengan salah satu karakter wanita dalam novel tersebut. Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa penulis telah berhasil membawa emosi saya kedalamnya.

Lalu, novel kedua yang saya nikmati berjudul Napas Mayat karya Bagus Dwi Hananto. Genre novel yang satu ini berbeda dengan novel yang sebelumnya saya baca. Nah, dalam kesempatan kali ini saya akan menceritakan bagian awal secara singkat dari salah satu novel pemenang sayembara menulis bergengsi di Indonesia. Sebelum menceritakan, saya ingin menceritakan persepsi saya terhadap sampul novel ini saat pertama kali melihatnya di salah satu toko buku, ditemani olehnya yang sedang saya marahi kala itu L Berikut saya lampirkan penampakan sampul novelnya.



Menurut saya, ilustrasi yang ada pada sampul novel tersebut cukup mewakili konten yang ada didalamnya. Warna hitam, semacam goresan, entah apakah itu sebuah serat pohon atau entahlah, dan 3 makhluk hidup; ayam, sapi, dan manusia. Ketiga makhluk tersebut dibagi sesuai dengan cara dan kebiasaan tukang potong memotong hewan. Ya bisa ditebak novel tersebut akan menceritakan tentang pembunuhan mutilasi. Dan ternyata benar, well let’s read my writing below J

Novel ini menceritakan seorang karakter yang dalam hidupnya mengalami kesepian. Hingga hampir menuju umurnya yang berkepala empat, ia tidak juga memiliki keinginan untuk memiliki kehidupan yang diidamkan banyak orang, dalam hal ini yang saya maksud adalah pernikahan dan keturunan. Ia terpuruk akibat kebangkrutan ayahnya dan perubahan fisiknya yang menjadi factor penting untuk melakukan dosa yang tidak lazim. Kebotakan merupakan alasan dibalik semuanya. Kekurangan tersebut menimbulkan perasaan dendam terhadap tetanggnya yang ia juluki Mama Besar. Mama besar adalah tokoh perempuan yang hidup sendiri tanpa sanak saudara. Ia gemar mencemooh karakter utama dalam novel tersebut. Hal tersebut lah yang mendorongnya untuk merencakan sebuah pembunahan yang tidak lazim bersama dengan Hitam, tokoh yang tidak lain ialah sisi kelam yang ada pada dirinya.

Dengan hati-hati dan professional, ia menyelinap masuk kedalam apartemen Mama Besar dan kemudian mencekiknya hingga tewas. Saat itu, ia mulai memotong bagian-bagian tubuh wanita besar tersebut hingga darah menggenang di lantai apartemen tersebut. Dengan pelan kemudian ia membopong bagian-bagian tubuh tersebut menuju apartemennya. Setelah itu, ia mulai membersihkan darah hingga tidak tercium bau amis sedikitpun. Sesaat setelah kembali ke ruangannya ia mulai memasak bagian-bagian tubuh tersebut dan memakannya, hingga bagian kepala yang tersisa untuk dimasukkan kedalam sebuah toples sebagai wujud kerberhasilannya. Berikut ialah kutipan saat ia mulai merebus dan memakan bagian tubuh tokoh Mama Besar:

“Aku memotong dengan sangat rapi, membuang lemak yang tidak dipakai sehingga hanya tersisa beberapa potong daging besar saja dari kaki, dada, dan tangan. Semua jeroan dari bagian bawah sampai jantung kujadikan satu. Kupotong-potong dan kutambah bumbu dapur dan berbagai sayur mulai dari wortel, kol, buncis, dan kesukaanku kacang polong; menjadi sup mangkuk besar, siap buat disantap. Berporsi-porsi mangkuk aku ciduk dari panci sup. Berkali-kali sampai lenyap ditelan mulut”.

Kutipan tersebut merupakan salah satu dari tiga bentuk kanibalisme yang dilakukan oleh sang tokoh utama.

Apakah Anda tertarik untuk membacanya?  J
Sampai disini tulisan ketiga dalam blog ini, sepertinya memerlukan koreksi.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca :)  


Minggu, 21 Februari 2016

I COOK?

Hai, ini kali kedua saya mengunggah tulisan setelah beberapa bulan. Beberapa bulan yang lalu saya sedang disibukkan dengan kegiatan kuliah yang cukup padat dan menyita waktu. Semenjak menempuh pendidikan S2, saya baru menyadari betapa santainya kuliah S1 dahulu. Bagaimana tidak, selama menempuh pendidikan S1, saya cukup sering berpergian bersama sahabat, tidak hanya itu, beban tugas pun tidak sampai membuat saya kalang kabut. Yah, meskipun pendidikan yang sedang saya tempuh cukup membuat saya kalang kabut, namun saya sangat menikmatinya. Banyak sekali hal berbeda dan baru yang merubah pemikiran dan sudut pandang saya saat ini. Jika sebelumnya saya mengunggah tulisan tugas saya (ah malunya, terlihat bukan kalau malas menulis) kali ini saya akan menulis mengenai sebuah usaha yang saya rintis.

Saya saat ini sedang memulai usaha kecil dalam bidang kuliner, tepatnya mie pangsit. Mungkin bagi teman yang mengenal saya dengan dekat akan terkejut. Bagaimana bisa seorang saya yang tidak bisa memasak, dengan percaya diri membuka usaha kuliner. Well, bukan berarti menu yang saya jual rasanya tidak enak, justru rasanya tidak usah diragukan lagi (hehe). Saya yakin karena resep yang saya gunakan ilah turun menurun. Saya diajari oleh seorang yang juga memiliki usaha kuliner serupa, ia telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dalam bisnis tersebut. Karena beliau adalah sobat ayah saya, beruntunglah saya dapat mengetahui resep turun menurun tersebut. Jadi, soal rasa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Cita rasa menu yang saya jual berbeda dengan mie pangsit pada umumnya loh. Oleh karena itu saya yakin untuk memulai usaha kecil ini. Berikut saya lampirkan foto penampakan mie pangsit buatan saya (hehe). 

Ayumie Pangsit

Yup, itu dia si Ayumie Pangsit. Terlihat lezat tidak sih? Meskipun saya yakin dengan cita rasanya, namun tentu dalam memulai usaha akan mengalami fase jatuh bangun. Dan menurut saya, saat ini adalah fase jatuh (smile). Apa yang kurang dari usaha tersebut harus terus diperbaiki. Tidak boleh mudah menyerah dan mengalah. Dalam kamus para pengusaha (haha) bangkrut itu sudah biasa. Nah, bagaimana dengan kamus saya. Saya mungkin akan merasa kecewa dan sedikit down, namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Meskipun nih ya.. ada yang mengatakan, "udah kamu fokus aja sama kuliah, kamu nggak suka dunia kuliner. Mending fokus ke hal yang kamu suka aja". Though, he knows me very well, about things i dont like and things i have interest to, tapi saya mau mencoba. Saya belum kapok dan menyerah. Tidak jarang saya merasa jenuh bahkan pusing, tetapi saya masih memiliki keyakinan (hehe). Jadi, meskipun lamban karena dibarengi dengan kewajiban saya sebagai mahasiswa, saya tetap akan berjuang memulai usaha kecil yang satu ini. 

Ja-di kesimpulannya, saya masih akan terus mencoba dan terus berinovasi. Gagal itu urusan belakang, yang penting saya sedang belajar dan terus belajar.
Thanks to those who help me sincerely :)


Kamis, 12 November 2015

‘HATERS’ SEBAGAI CERMINAN KEPRIBADIAN KEBUDAYAAN


Masyarakat ketimuran seperti Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan juga keramahan. Dahulu, nilai-nilai tersebut dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai kebanggaan. Misalnya pada masyarakat Tengger. Penduduk asli Tengger memegang teguh nilai-nilai dalam kebudayaan mereka, salah satunya budaya keramahan-tahamahan dan sikap saling menghargai. Nilai-nilai tersebut dianggap mampu mempererat hubungan antar warga, sehingga menciptakan suasana yang harmonis dan menyenangkan. Masyarakat Tengger bukanlah satu-satunya suku yang menjunjung nilai kesopanan dan keramah-tamahan, melainkan hampir seluruh suku di Indonesia juga menjungjungnya. Namun, seiring berkembangnya zaman dan masuknya teknologi, nilai-nilai tersebut mulai luntur. Hal itu dapat dirasakan melalui munculnya ‘haters’ dalam jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan instagram yang susungguhnya merupakan cerminan kepribadian kebudayaan bangsa yang mulai bergeser.
‘Haters’ adalah sekelompok orang yang menyuarakan ketidaksukaannya pada seseorang melalui opini pedasnya dalam media sosial. Munculnya ‘haters’ merupakan awal mula terjadinya fenomena cyberbullying. Cyberbullying adalah “an aggressive, intentional act carrief out by a group or an individual, using electronic forms of contact, repeatedly and over time against a victim who can not defend him or herself” (Weber dan Pelfrey 9). Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa cyberbullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dengan menggunakan media elektronik secara berulang-ulang terhadap korban yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Dalam situasi ini, ‘haters’ berada dalam posisi sebagai kaum yang agresif terhadap korban bullying. Fenomena ‘haters’ merupakan gambaran bagaimana kebudayaan malu dan saling menghargai mulai luntur akibat perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Munculnya fenomena bullying tidak bisa lepas dari adanya perkembangan teknologi. Hal ini didukung oleh pendapat Weber dan Pelfrey dalam buku Cyberbullying: Causes, Consequences, and Coping Strategy bahwa bullying saat ini semaking difasilitasi dengan kemajuan teknologi (Weber dan Pelfrey 11). Kemajuan teknologi yang sangat pesat memfasilitasi ‘haters’ dalam menyuarakan kebenciannya kepada seseorang. Mereka bebas mengekspresikan rasa tidak suka tanpa perlu memperdulikan lingkungan, karena ruang mereka berbiacara ialah maya, yaitu ruang yang bebas tanpa aturan.
Salah satu fenomena ‘haters’ yang sedang panas di Indonesia adalah cyberbullying yang dialami oleh Bella Shofie. Ia merupakan selebritis terkenal yang baru saja menikah dan menjadi istri kedua. Fakta tersebut memunculkan berbagai respon masyarakat. Banyak respon negatif yang muncul dari berita tersebut dan dapat dilihat dari banyaknya akun instagram yang merupakan diprakarsai oleh ‘haters’ Bella Shofie. Tidak hanya itu, kelompok tersebut di ikuti oleh lebih dari 37.000 pengikut. Dimana setiap foto yang diunggah kedalam akun tersebut mendapat komentar hingga 500, dan berisi kata-kata agresif yang ditujukan kepada Bella Shofie.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran nilai-nilai masyarakat Indonesia yang dahulu dikenal sebagai bangsa dengan masyarakat yang sopan dan ramah menjadi masyarakat yang agresif dan tidak malu dalam menunjukkan rasa bencinya ke ruang publik, dalam hal ini yang dimaksud adalah ruang maya. Dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi mempengaruhi nilai-nilai yang dahulunya dijunjung tinggi menjadi bergeser bahkan hilang. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial, hendaknya masyarakat mampu menyikapi perkembangan teknologi yang semakin canggih secara positif tanpa melunturkan nilai-nilai budaya yang merupakan ciri kepribadian sebuah budaya bangsa.  

Works Cited                                                                       


Weber, Nicole L. and V William Pelfrey. Cyberbullying: Causes, Consequences, and Coping Strategy. America: LFB Scholarly Publishing, 2014.